Minggu, 27 Oktober 2019

Ketika Teman Masa Kecilmu Pulang ke Ruang Hati Di Dirimu Yang Dewasa #reviewreceh SHE WAS PRETTY





Hwang Jung Eum as Kim Hye Jin, Park Seo Jun as Ji Sung Jun, Choi Siwon as Kim Shin Hyuk, and Go Jun Hee as Min Ha Ri


Anyeonghaseo, yeorebeun…
Assalamu’alaikum. Apa kabarmu hari ini? Semoga sehat semuanya, tetap glowing merona wajahnya, semangat dan tidak kekurangan suatu apapun. Hari ini aku tuh mau nulis #reviewreceh drama Korea favoritku lainnya nih. Aku tahu drama yang tayang di tahun 2015 ini dari adikku yang memang mengoleksi drama-drama Korea di laptopnya. Satu-satunya pemain yang aku tahu tuh hanya Choi Siwon. Aku kenal Siwon justru bukan karena suka Suju. Karena aku suka aktingnya di Oh My Lady.
Pas kutonton kok di episode pertama Siwonnya lama banget nggak muncul. Iya sih dia hanya cameo di sini. Tapi bukan sembarang cameo, cameo yang nggemesin gitu. Siwon tuh baru muncul di menit 47 detik 29 dan langsung bikin pecah telur! Dia bertemu dengan Kim Hye Jin si tokoh utama dengan permen karet sebagai jembatannya. Asli kocak di sini. 




Bayangkan kalau kamu kerja bareng kepala editor secaem ini...

Jadi tuh Siwon yang berperan sebagai Kim Shin Hyuk lagi melempar permen karet putih persegi ke atas. Niatnya sih mau dimakan gaya akrobat gitu. Shin Hyuk dah mangap seksi gitu dengan kepala mendongak ke atas langit. Eh, tuh permen malah jatuh ke tanah. Pas Shin Hyuk mau memungut permen itu, Kim Hye Jin (Hwang Jung Eum) lewat dan kesandung kaki Shin Hyuk. Jatuh tengkurap-lah si Hye Jin ini. Aku tahu banget rasanya jatuh tengkurap. Sakitnya nggak seberapa, tapi malunya itu lho… (pengalaman jatuh tengkurap karena turun dari kereta yang dah jalan di Stasiun Gondangdia, padahal rencana turun di Stasiun Cikini…kelewatan satu stasiun dan baru sadar kelewatan pas dah turun tangga, bergumam kok Cikini catnya tambah mentereng, lalu seorang ibu menyadarkanku sambil menyodorkan sebotol air mineral, “sakit ya dek? Kamu salah stasiun tahu…”).
Kim Hye Jin yang sedang dalam posisi telungkup di atas koin blok depan kantornya ini lalu melihat permen karet putih di depannnya. Ia menyangka kalau giginya patah. Pas Shin Hyuk tanya keadaan dia gimana, eh kok yo malah Hye Jin bicaranya kayak nenek-nenek yang giginya tanggal gitu. Sampai akhirnya dia tahu kalau itu bukan giginya, melainkan permen karet yang hendak dimakan Shin Hyuk. Hye Jin tak mempedulikan Shin Hyuk. Dia bergegas masuk ke kantor tempat dia bekerja di hari pertama ini. Shin Hyuk melihat Hye Jin bak Michael Jackson. Sepatu dan kaos kaki yang dipakai Hye Jin berkarakter banget!
Drama ini ternyata setelah kutelusuri adalah drama reuninya antara Hwang Jung Eum dan Park Seo Jun. Keduanya pernah bermain drama bareng dengan berperan sebagai kakak adik angkat di Kill Me, Heal Me. Itu tuh jadi drama favoritku juga akhirnya karena ada Ji Sung yang aktingnya mumpuni, berkelas, dan jalan ceritanya yang tak biasa. Oke…oke…araseo, kita kan kembali ke drama She Was Pretty lagi…



Judul She Was Pretty ini kurasa pas banget untuk menggambarkan kehidupan seorang Kim Hye Jin yang diperankan oleh si cantik menawan Hwang Jung Eum. Di sini, Jung Eum masih terlihat cantik sih menurutku. Meskipun rambutnya kribo nggak beraturan dengan pipi memerah karena bekas jerawat di kulit wajah yang tak terlalu dirawat ini. Tetapi, Hwang Jung Eum berhasil membiusku manakala dia memerankan tokoh Kim Hye Jin yang dulunya cantik, namun sekarang jadi “antik” karena setelah dewasa, gen ayahnya semakin kuat melekat pada dirinya. Ayahnya itu dulu pengusaha sukses. Pria dengan wajah pas-pasan ini memiliki istri yang luar biasa cantik. Wajah cantik sang istri menurun pada Kim Hye Jin kecil dan kini pada adik perempuan satu-satunya Hye Jin, Jung Da Bin. 

Di drama ini, Jung Da Bin berperan sebagai Kim Hye Jin kecil dan Kim Hye Ri, adik dari Kim Hye Jin. Walaupun sebagai pemeran pendukung, akting Jung Da Bin patit diacungi jempol. Apalagi pas adegan Kim Hye Jin kecil memberikan satu pelantang jemala atau earphone-nya ke telinga Ji Sung Joon kecil yang diperankan oleh aktor cilik bertubuh gempal, Yang Han Yeol. Hal ini dilakukan Hye Jin untuk menenangkan Sung Joon yang  takut akan hujan. 

Episode pertama drama ini diawali dengan Ji Sung Joon yang menemukan potongan puzzle dari masa kecilnya. Ada satu potongan puzzle yang hilang. Puzzle ini bergambar lukisan dengan gadis mengintip pada potongan puzzle yang hilang itu. Kim Hye Jin-lah yang menyimpan potongan puzzle. Sebelum kemblai ke Korea untuk bekerja, Ji Sung Joon sempat mengirimkan email pada Kim Hye Ri jika dia ingin menemui sahabat kecilnya itu saat ia sampai di Korea. Hye Jin yang tidak siap bertemu dengan Ji Sung Joon, langsung meminta Min Ha Ri, yang diperankan oleh Go Joon Hee, untuk menggantikan dirinya. Hye Jin kehilangan kepercayaan dirinya untuk bertemu dengan Sung Joon. Benar saja, sesuai dugaan Sung Joon, Hye Ri yang dahulu cantik dan manis itu ternyata sangat anggun dan menarik saat dewasa. Min Ha Ri berhasil mengelabui Sung Joon. Dia dibantu Hye Ri menjawab pertanyaan Sung Joon di balik panggungnya di sebuah restoran mahal. Ji Sun Joon jatuh hati pada pandangan pertama pada Kim Hye Jin palsu itu. 

 


Selesai dari pertemuan itu, Kim Hye Jin berusaha untuk melupakan Ji Sung Joon yang ternyata sangat keren, slim, dan charming saat dewasa. Berbeda sekali dengan Sung Joon saat masih kecil. Hye Jin lalu melanjutkan hidup dengan bekerja sebagai karyawan di majalah fashion terkemuka di Korea, MOST. 

Karena sebuah kesalahpahaman, Hye Jin akhirnya dipindahkan ke bagian editor junior. Sebelumnya ia hanyalah karyawan magang bagian administrasi. Di divisi baru inilah ia bertemu lagi dengan Kim Shin Hyuk (Choi Siwon) yang ternyata bekerja sebagai editor feature senior. Identitas asli Shin Hyuk terkuak di akhir-akhir episode bahwa dia adalah penulis TEN yang sangat populer di dalam dan di luar negeri. Shin Hyuk yang dari awal bertemu sudah tertarik dengan Hye Jin yang mirip Michael Jackson, mengetahui semua rahasia antara Kim Hye Jin Ji Sung Joon. Akhirnya dia hanyalah tempat untuk Hye Jin bersandar manakala Sung Joon sering kecewa sampai memaki Hye Jin atas hasil kerjanya. 



Semua alur cerita dalam drama MBC yang tayang pada 16 September sampai 11 November 2015 ini sangat menarik. Banyak hal tak terduga yang bikin gemas, galau, dan kesal penontonnya. Apalagi penulis Jo Sung Hee mengakhiri drama ini dengan sweet sekali. Hye Jin yang bisa mewujudkan mimpinya sebagai penulis buku anak dan Sung Joon yang bisa menikahi Hye Jin asli. 

Dari Ibu ini kita belajar banyak kosakata Perancis baru euy...


Drama yang disutradarai Jung Dae Yoon ini juga menampilkan aktris senior Hwang Seok Jeong yang berperan sebagai Kim Ra Ra, direktris kece MOST yang selalu berbahasa asing dengan gaya nyentriknya. 



Drama ini sangat worth-it untuk ditonton. Setelah selesai semua 16 episode kamu nonton, pasti deh kamu senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau lihat bawang bombai di kulkas hihi… 



Depok, 28 Oktober 2019
Di tengah mengerjakan novel online dan bersiap mau beberes rumah.  

Senin, 14 Oktober 2019

Review Receh BECAUSE THIS IS MY FIRST LIFE : Pikirkan Berulang Kali Jika Hendak Menjadi Scripwriter





            
               Halo, apa kabar? Assalamu’alaikum yeoreobeun? Semoga kamu dalam keadaan baik, tidak kurang suatu apapun, dan sehat jiwa raga. Di blog kedua bulan Oktober 2019 ini, aku mau sedikit review drama Korea yang jadi favoritku banget nih. Sebenarnya agak kepikiran sih untuk menjadikan blog ini tempat review semua drama Korea yang jadi favoritku dan lagi aku tonton. Tapi, kita lihat aja deh nanti. Biasa deh aku kan suka nggak jelas coz ada aja yang dikerjain sampai ga tengok-tengok ke blog atau media sosial pribadiku. Anyway, yereobeun akun media sosial pribadiku yang sering kutengok tuh ada  https://www.facebook.com/ulfah.khaerani , https://twitter.com/ukhaerani
 , Instagram @ukhaerani dan blog ini. Terus ada akun jualan barang pribadi juga sih yang lagi ditongkrongin banget di Carousell @ulf_stuff. Jadi, mungkin kamu bisa melihat hal sama yang lagi aku bahas di sana.
            Oke, sekarang kembali ke judul awal, rencananya sih bakal jadi tulisan review atau opiniku tentang drama yang diperankan oleh JJ Somin dan Lee Min Ki itu. Semoga aku nggak keluar jalur yah pas lagi nulisnya hihi…
            Dimulai dari episode pertama yang cukup menyentuh, menurutku lho ya, betapa di keluarga Ji Ho (Somin JJ) anak lelaki itu selalu diutamakan. Bayangkan, kamu lagi ulang tahun terus dirayakan bersama keluarga. Yang harusnya tiup lilin itu kamu, eh malah adik kamu yang laki-laki karena keluarga terlalu mengutamakan anak lelaki. Kebayang dong kezelnya kayak apa. Untung aja si Ji Ho masih boleh makan kue ultahnya sendiri. Kalau nggak, pasti Ji Ho dah bawa-bawa koper keluar rumah sejak berusia 10 tahun. Ketika Ji Ho berusia 20 tahun, dia akhirnya bisa meniup lilin ulangtahunnya sendiri. Ada dua sahabat terbaiknya, Ho Rang dan Soo Ji yang merayakan ultahnya dengan cake besar itu. Sebelum meniup lilin. Ji Ho mengucapkan satu wish yang pada akhirnya membawanya ke sejumlah kerumitan hidup. Tapi, in the end, Ji Ho menemukan seseorang yang bisa menjadi pelindungnya. Ji Ho wished…
Kabulkan aku jadi penulis hebat.

ndeprok di atas karpet depan tv tuh kebiasaan semua penulis deh, bukan Ji Ho aja


            Dan benar saja, Ji Ho menjadi penulis. Tepatnya, asisten penulis drama atau co writer drama laris yang dia lakoni selama 5 tahun. Ji Ho tinggal di apartemen tim produksinya bersama kepala penulis atau headwriter Jakkanim untuk satu judul drama yang sudak dikerjakan selama 3 bulan lamanya. Ji Ho mengerjakan sub bagian yang cukup banyak di drama itu. Bagi Ji Ho, job desk utamanya adalah ‘menggalang dana’. Dia harus menuliskan kalimat yang berhubungan dengan produk-produk yang sedang diiklankan melalui drama itu. Kamu pasti pernah lihat dong drama kita yang diselipkan iklan makanan atau minuman. Misalnya, pemain utamanya lagi duduk santai, eh tahu-tahu ada istrinya datang bawa camilan crackers yang lagi hits. Nah, kalimat yang diucapkan sang istri berisi kalimat persuasif a.k a bujukan untuk penontonnya supaya tertarik beli produk itu. Begitu tuh kerjaan Ji Ho di tim drama.

Setelah 3 bulan mengerjakan ‘penggalangan dana’, Ji Ho izin pulang ke apartemennya yang ia tempati bersama adik laki-lakinya. Pas hari itu adalah ulangtahunnya ke-30. Betapa terkejutnya Ji Ho saat tahu kalau adiknya sudah menikah selama 4 bulan. Dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang tante. Sungguh pekerjaan scriptwriter itu membuat Ji Ho kehilangan momen penting dalam hidupnya. Saat keluar dari apartemen headwriter-nya saja, Ji Ho senang melihat sinar matahari yang menembus kulit tangannya. Kadang, adikku juga bilang aku norak saat aku berjalan keluar rumah bersamanya. Seakan aku belum keluar rumah selama bertahun-tahun. Hehe…karena aku melakoni pekerjaan yang serupa dengan Ji Ho, bedanya aku bisa mengerjakan semua script dari kamar di rumahku sendiri. Semua pekerjaan di-submit via email atau website. 

Konflik pertama yang Ji Ho hadapi adalah adiknya dan istri tinggal di apartemen mereka. Sementara, ayah dan ibunya di kampung halaman. Ji Ho sangat tidak nyaman berada satu atap dengan adik dan adik iparnya. Bagaimana jika mereka melakukan adegan suami istri di depannya? Dan Ji Ho tidak ingin terlihat buruk dengan membiarkan adik iparnya yang hamil mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Sementara, Ji Ho juga akan sibuk dengan pekerjaannya (ini tuh bisa jadi konflik banget di kehidupan kita sehari-hari ya? Betapa nyamannya hidup sendiri daripada bersama adik atau kakak yang sudah menikah, sementara kita belum menikah…)

Maka, keluarlah Ji Ho dari apartemennya. Ia mencari kamar sewaan ke segala penjuru Seoul. Ibunya memberi kejutan dengan memberi uang dalam amplop yang terlihat tebal itu. Tak dinyana, jumlah uangnya memang mengejutkan. Masih jauh dari bayangan Ji Ho bahwa ia akan dapat menyewa kamar bagus dengan uang itu. Akhirnya, Ho Rang memberinya solusi. Sangat menggiurkan bisa mendapatkan kamar bagus dengan harga rendah (dan hanya perlu menjaga kebersihan) di apartemen mahal milik seorang kenalan pacar Ho Rang. Oh iya, Ho Rang ini punya beban sendiri yaitu ia yang sudah berpacaran dengan Woo Seok (Kim Min Seok ini ya aktor yang bersemangat banget dan anak rumahan dilihat dari acara ragam IT’S DANGEROUS OUTSIDE THE BLANKET) selama lebih dari 5 tahun ini tak kunjung dilamar. Bagi seorang wanita, ada masanya ia sangat ranum dan itu adalah momen terbaik dalam hidupnya. Maka, menikahlah pada saat itu. Tapi, Woo Seok belum punya pekerjaan tetap yang bisa diandalkan penghasilannya tiap bulan. Jadilah mereka ribut setiap saat. Sampai ada tragedi sofa pink lembut itu…Pokoknya harus segera nonton deh. 

Rumah atap Ho Rang Woo Seok yang juga basecamp kumpulnya Ji Ho bareng sahabat.


Lalu, Ji Ho sudah pindah ke rumah Nam Se Hee (Lee Min Ki). Keduanya berpikir mereka memiliki jenis kelamin yang sama. Dilihat dari nama dan profil akun media sosialnya. Ji Ho menyangka Se Hee perempuan femme fatale yang sukses di karir IT-nya. See Hee menyangka Ji Ho laki-laki penyuka bola yang suka kebersihan. Poin Ji Ho sebagai penyewa pun tinggi di mata Se Hee. Se Hee ini sangat logis. Dia memberi rating semua penyewa kamar di apartemennya berdasarkan kebersihan dan penjagaan tata tertib. Dan Ji Ho adalah penyewa dengan rating tertinggi. Hingga suatu hari, keduanya akhirnya tahu bahwa mereka beda jenis. Heboh. Hanya sesaat saja. Hingga akhirnya keduanya memutuskan menikah di atas kontrak 2 tahun dengan alasan kuat masing-masing. 

Di drama ini tuh ada cameo kucingnya lho...pihak ketiga yang jadi saksi hidup kalau Ji Ho dan Se Hee lagi berduaan.


Ji Ho sangat membutuhkan kamar nyaman di rumah Se Hee. Dan dia juga tidak bisa menemukan kamar murah senyaman itu. Sementara itu, Se Hee sangat butuh menikah supaya ibunya tidak diceraikan ayahnya. Dan Se Hee juga bisa melunasi cicilan pembelian apartemen dari ayahnya jika menikah. Kalian pasti sudah bisa menduga jika menikah kontrak ini akan ketahuan lambat laun dengan cara yang tidak biasa. Satu yang paling greget adalah ketika Soo Ji, sahabat Ji Ho yang merupakan femme fatale yang suka bersenang-senang dengan banyak pria, menemukan kontrak nikah keduanya. Soo Ji saat itu sedang menjalin hubungan asmara dengan bos Se Hee. Oh iya, ada satu pemanis di drama ini yaitu si pemilik cacat menawan alias lesung pipi, Kim Min Gyu. Kim Min Gyu berperan sebagai Yeon Bok Nam, anak pemilik kafe tempat Ji Ho bekerja setelah ia memutuskan tidak ingin menulis skenario drama tv lagi. Seru banget pertemuan Ji Ho dengan pria yang seumuran adiknya ini. Cute cute gimana gitu…

Gimana nggak meleleh hati noona dideketin kamu, dek?


Terus keputusan Ji Ho untuk berhenti menulis bukan tanpa alasan. Dia tuh hampir diperkosa oleh sutradara muda yang menghampirinya di studia tempat Ji Ho tidur sementara setelah keluar dari apartemen Se Hee. Ji Ho kabur dari studio out dengan berjalan kaki menggunakan slipper dan baju tidur. Untung dia sempat bawa hp. Dia kaget ternyata bisa berjalan sejauh itu hingga sampai di rumah Se Hee. Rumah yang ia merasa nyaman di dalamnya. 

Omu rice buatan Nam Se Hee buat Ji Ho


Kalau dari pengalamanku selama menulis skenario drama tv, ada sejumlah alasan mengapa seorang penulis bisa memutuskan hiatus atau berhenti sebentar tidak menulis dan bahkan tidak akan menulis selamanya. Mereka tuh mungkin mengalami hal seperti yang Ji Ho alami. Namun, kebanyakan ada pula yang mengalami hal-hal seperti di bawah ini. Beberapa diantaranya juga ada yang kualami sih.
*      Penulis lelah karena rating tak kunjung naik dan produser sudah semakin menekan mereka. Akhirnya kepala penulis memutuskan pasrah dengan keadaan. Entah dia diganti dengan penulis lain atau dia mengundurkan diri. Yang lebih sering sih dramanya ‘bungkus’. Hingga akhirnya keinginan untuk lanjut menulis memudar.
*      Penulis, terlebih co writer sering mendapat bully-an dari kepala penulis atau tim produksi lainnya. Kata-kata seperti DASAR PENULIS PEMALAS! AN**NG! dan aneka panggilan kebun binatang sering dilontarkan ke penulis ini di depan forum. Ada yang kebal. Tapi banyak pula yang merana. Dia pun memutuskan selesai dari tim ini.
*      Penulis tak kunjung mendapat jawaban dari ide atau sinopsis global yang ia kirimkan ke PH atau dititip ke penulis senior. Seperti yang kita tahu, terkadang no answer is also the answer, kan?
*      Buat sejumlah penulis, lingkungan basecamp bisa jadi bahan pertimbangan dia berhenti menulis. Entah karena terlalu terpapar asap rokok berkepanjangan atau tempat ostirahat yang tidak kondusif. Sementara, mereka tidak mendapat izin untuk mengerjakan PR di rumah sendiri. Secara jaringan internet tidak bisa disandarkan saat tim produksi butuh cepat naskahnya.
*      Sikut-sikutan everywhere. Biasanya untuk mempertahankan eksistensi, mereka yang tak punya ide segar nan keren dan kurang iman akan melakukan sikut-sikutan ini. Bisa dari menyebar fitnah atau menjadikan buruk orang yang hendak disingkirkan di hadapan orang lain.
*      Depresi. Penulis depresi biasanya akan terlihat dari tulisannya yang monoton atau flat saja. Dan kamu akan sulit melihat di wajahnya. Kalau sudah begini lebih baik penulis diliburkan sementara. Namun, biasanya akan sulit untuk kembali lagi ke produksi usai pengobatan. Hingga akhirnya ia memutuskan berhenti menulis.
*      Faktor orang-orang terdekat. Penulis biasanya berhenti karena diminta oleh orang-orang terdekatnya seperti suami, istri, orangtua, dan sahabat yang care. Mungkin mereka melihat sang penulis merana selama mengerjakan proyek. Mereka khawatir dia akan sakit fisik, dan lain-lain.  
Dan masih banyak lagi. Itulah mengapa kalau kamu memutuskan mau jadi scripwriter, siapkan mental dan spiritual kamu juga selain fisik, ide segar, dan kehadiran kamu. Menulis skenario drama tv, apalagi stripping tak semudah yang kalian bayangkan, yeoreobeun…
Oh iya, Ji Ho bagaimanapun akhirnya menikah sungguhan dengan  Se Hee. Dan dia sangat senang jika Se Hee sudah bilang “uri…” atau “uri jib…” yang berarti “kita, rumah kita”. Ji Ho merasa buncah hatinya memiliki rumah sendiri dengan orang yang ia sayangi. Dia sempat iri tuh dengan keong yang tidak akan pernah kehilangan rumahnya. 


Saran Ulf, kamu kudu nonton drama ini. Lucu, menghibur, dan menyentuh. Apalagi pas adegan Ji Ho hendak menikah dengan Se Hee. Ibu Ji Ho bicara khusus pada Se Hee untuk tidak pernah menghentikan Ji Ho mengejar mimpinya sebagai penulis. Hiks hiks…
Last but not least, adek Ulf tuh pas kasih tahu drama ini di awal tahun 2018 bilang kalau Ji Ho itu mirip Ulf pas lagi nulis. Kadang sambil ngelaptop, melipir dulu ngosek wc atau cuci piring. Lebih sering ya bicara sendiri.

06.25 WIB
Sambil nonton Chibi Maruko Chan

Minggu, 13 Oktober 2019

Rezeki Putus Nyambung






Rezeki.
Bagaimana kamu memaknai tiga suku kata ini?

Apakah rezeki itu berupa materi seperti uang dan fasilitas? Sehingga mudah bagi kamu untuk bepergian sehari-hari, bersosialisasi, mingle with family, dan melakukan segala aktivitas menyenangkan lainnya.

Mungkin, bagi sebagian dari kita rezeki itu berarti kesempatan. Kesempatan yang bisa jadi tidak datang dua kali dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Misalnya, kesempatan untuk menjadi kepala penulis sebuah drama tv. Satu episode kamu bisa dibayar hingga 15 juta rupiah.

Ada pula yang memaknai rezeki dengan kesehatan tubuh dan jiwa yang baik. Ia percaya jika Tuhan tidak memberikan rezeki kesehatan ini, maka dia tidak mungkin bisa beraktivitas dengan lancar.

Apapun makna rezeki bagi kamu, rezeki tetap rezeki. Dengan Sang Pengendali yang siap menyebarkan rezeki bagi siapapun. Tanpa terkecuali.

Bagi Ulf sendiri, rezeki adalah kesatuan antara keyakinan pada Sang Maha Pengendali Rezeki, doa, harapan, dan ikhtiar kita. Jika kita tahu ada kesatuan ini, otomatis kita nggak akan pernah merasa rezeki itu putus nyambung atau ada dan tiada. Setiap jengkal langkah kaki kita, napas yang kita hembuskan, dan hari-hari yang kita jalani adalah rezeki yang kita terima dari Sang Pengendali Rezeki.


Semua berangkat dari yakin. 
Tempe. Kamu tahu tempe itu sumber protein nabati, kan? Dari SD juga dah dikasih tahu betapa makanan rakyat ini bisa menyumbang kecerdasan dalam otak kamu. Ketika kamu makan tempe goreng, tempe bacem, atau tempe orek, apa kamu tahu seberapa banyak protein yang terserap ke tubuh kamu? Belum lagi jika tempe itu membawa teman-temannya seperti sambal ulek, ulekan bawang putih, garam, air, dan gula merah. Tapi, bagaimanapun kamu yakin ...kata bu guru tempe sumber protein yang bagus bagi tubuh... Sesederhana itu.
Anyway, Ulf suka tempe sih, makanya perumpamaannya tempe. Maaf ya kalau agak gimana gitu, maksa mungkin atau apa wkwkwk... Btw, tips kalau beli tempe beli yang keledai eh kedelai lokal yang kedelainya tertata rapat-rapat 4-6 gitu kayak naik angkot. Cek GMO tempe di Google yaah, dude...
Yakin saja pada Allah subhanahu wata'ala yang Maha Memberi Rezeki, Ar-Razzaq yang takkan pernah meninggalkan kita hamba-Nya...

Doa dan harapan. 




Senjata orang mukmin adalah doa. Balik lagi, kalau kita yakin pada Sang Maha Pemberi dan Pengendali Rezeki, kita pasti akan menyertakan doa dalam setiap langkah kaki kita. Bangun tidur, doa, mensyukuri hari yang baru dengan napas yang lancar. Lalu, mau makan juga doa...allahumma bariklana... lanjutkan sendiri doa favorit kamu ini...Dan seterusnya. Apalagi kalau kamu mengharapkan rezeki untuk membiayai kehidupan sehati-hari dan masa depan kamu seperti sekolah, berumahtangga, menyenangkan orangtua, dan sebagainya.
Karena rezeki datangnya misteri dan seringkali tidak kita sadari keberadaannya, maka doa jadi teman sejati (hasyiiik) di keseharian. Doa selalu, selalu doa guys tuk menyemangati hari kita... 

Ikhtiar 


Biar kamu nggak merasa rezeki itu putus nyambung, bagusnya sih jalan aja setiap hari. Makna jalan di sini bukan hanya naik turun public transportation atau mengukur jalanan di atas kendaraan pribadi menuju satu tempat ke tempat lain. Jalan bisa berarti berpikir, membelah layer demi layer dan menulis isi kepala yang disesuaikan dengan bahan-bahan bacaan serta tontonan. Sederhananya, ya begitu ikhtiar.
Kembali ke hadist di awal tadi, "Siapa yang berpotensi di suatu bidang, hendaknya menekuninya."
Buat Ulf, ikhtiar berkaitan erat dengan bidang yang aku kuasai. Potensi diri kita itu kan yang melihat orang lain, terkadang. Ini bisa jadi indikasi kamu menguasai suatu bidang tertentu, itu kalau kamu masih bingung apa bidang yang kamu kuasai. Misalnya, orang bilang kamu pintar ngomong terus ngenakin obrolan. Bisa jadi kamu sangat menguasai public speaking dan siapa tahu motivator salah satu profesi yang bisa kamu geluti.
Nah, kalau Ulf sendiri kan, orang sering bilang aku bisa nulis. Ndilalah aku memang suka nulis juga sih, alhamdulillah...ya aku menjalani profesi penulis sejauh ini... (butuh penulis skenario komedi atau drama romantis? Sila komen deh, nanti kita tukeran nomor hp yaah...atau mau ajak aku nulis novel di perusahaan? Boleh banget...)




Sampai sini dulu ya tulisan tentang REZEKI ini...semoga bermanfaat dan bisa menyemarakkan hari-harimu...

(di tengah menyelesaikan novel dan menunggu kabar pasti)
01.11 WIB
14 Oktober 2019
 

Senin, 12 Agustus 2019

Siblings Time Makan Siang Idul Adha 1440 H Di REMPAH KITA SENAYAN CITY


REMPAH KITA @foodcourt Senayan City 5th Floor



Assalamu'alaikum....
Halo, jumpa lagi nih sama Ulf di blog yang dah lama berlumut dan bersarang laba-laba. Akibat kelamaan ga diisi postingan apapun. Habis pemilik blognya terlalu (sok) sibuk sih wara-wiri di website orang lain atau di layar kaca (ceile gitu...).

Oke, postingan blog kali ini, as usual, biasa banget. Hanya tentang cerita simple menghabiskan waktu liburan sejuta ummat di Idul Adha 1440 H ini yang jatuh pada hari kesayangan kita semua, Hari Minggu, 11 Agustus 2019 kemarin. Habis salat ied kemarin tuh rencananya nggak mau ngapa-ngapain karena mau memanjakan diri aja santai usai berjibaku dengan tugas harian menulis tuk website orang lain dan beberapa skenario tv (yang dah selesai juga proyeknya hihi...). Tak dinyana, selesai mendengarkan khutbah salat Idul Adha terus cipika-cipiki dengan handai taulan n para tetangga yang hanya bisa dijumpai akrab pada hari-hari tertentu aja, lah kok kepengen main ke kantor dedek yang sebelahan sama Senayan City, mal idaman keluarga ☺

Berangkatlah Ulf dan ibu ke Senayan City. Naik commuter line yang alhamdulillah sepi pisan euy. Disambung naik taksol yang alhamdulillah lagi melewati jalan raya yang sepi dan jauh dari keseharian lingkungan Senayan yang biasanya padat merayap di jam-jam sibuk. Eh, Minggu juga sih. Biasanya kan jalanan banyak ditutup karena CFD. 

Sampai kantor dedek, numpang taruh tas dan laptop. Lalu, kita jalan-jalan deh ke Sency. Niatnya sih mau cari laptop yang lagi promo itu. Tapi, ternyata sampai di lantai 4, toko elektroniknya, promonya dah nggak ada euy...Tahu-tahu dan mendekati waktu oleng bagian abdomen...alias dah menjelang jam makan siang. Pantesan dah nggak fokus banget lihat apapun. Serba terang dan besar lho padahal font tulisannya hehe...maklum paginya tuh hanya makan sereal dan minum susu non fat. Jadi belum jam 1 siang juga dah nggak fokus banget. 

Lalu, dedek Ulf datang dengan sebuah gagasan tuk cari makan siang di foodcourt aja deh. Padahal tadinya kita mau order makanan via ojol lho. Menjelajah-lah kita semua ke foodcourt Senayan City yang teramat ramai itu. Para pengunjung rata-rata memang makan daging di foodcourt ini. Hanya di tempat yang berbeda. Memang ya terkadang suasana tempat makan menentukan nafsu makan kita seberapa besarnya. Dan siang itu, kami nggak cari suasana. Hanya cari sumber energi buat modal pulang ke rumah nanti sore tsaaaaah...gayane...

Ada satu tempat yang eyecatching banget begitu memasuki area foodcourt di lantai 5 ini. Gerai makanan khas Indonesia ini memang berada di tengah juga sih. Makanan yang dijual all about Indonesian food yang menggemaskan itu dan selalu bisa menggugah selera. Ada total 4 sisi display makanan dan tempat pemesanan dimana pengunjung bisa mengitari keempat-empatnya untuk melihat dari dekat bagaimana penampakan makanan yang akan kita pilih. Saat suka makanan tersebut, pengunjung ya bisa langsung pesan dan melakukan pembayaran di sisi display itu. Ada makanan yang harus ditunggu sekitar 7-15 menit seperti rawon dan soto karena memang kuahnya kan harus dipanaskan yaah... 

Btw, maaf mbak berkerudung ungu ini jadi ikut kefoto...ini tuh booth khusus ketoprak, gado-gado, dan siomay. Pokoknya yang berbumbu kacang deh.

Salah satu sisi display tuk makanan lauk sayur campur satu harga. Di sini Ulf pesan sayur tumis, lauk, sambal (tersedia 7 jenis sambal), dan langsung bayar di tempat. 

Karena bingung saking banyaknya pilihan, Ulf dan adek mengitari semua sisi display. Lalu, ibu Ulf nyeletuk mau rawon. Jadilah kita pesan rawon ibu ratu dulu. Saat sedang memesan rawon, seorang nci syantik lagi sibuk pesan menu ala warteg yang terlihat sangat menggiurkan. Kita jadi ikutan pesan ramesan karena melihat nci itu deh. Yang Ulf pesan adalah nasi, kentang tumis buncis, telur balado, dan tumis kacang panjang plus sambal dabu-dabu. Sambal dabu-dabunya hanya minta sesendok dan itu super duper pedas. Jangan ditanya deh...Untung nggak nekat mau minta sambal mix dari 7 jenis sambal lainnya. Duh, bisa nggak sampai rumah deh...

Pesenan Ulf nih dengan tambahan 1 tahu berontak dari dedek hehe. Soalnya satu porsi tahu berontak itu isi 2 dan bagi dedek kebanyakan. Jadi dihibahkan-lah 1 buat kakak unyunya ini...btw, nasinya kayaknya lebih dari 100 gram. Dijamin kenyang bingo sampai sore. 

Aneka lauk pauk ramesan di REMPAH KITA juara deh!

Aneka lauk di REMPAH KITA juara!

Rawon ibu ratu yang datang setelah 7 menit order. Enak sih, tapi lebih ke rasa kecap. Terlalu manis. Tapi, lumayan-lah..coz lagi lapar banget ibu ratu. Setelah menghabiskan rawon ini, ibu ratu bantuin Ulf menghabiskan menu di piring hehe...jadi, kesimpulannya masih lebih banyak porsi ramesan yaah...

Pilihan minum kita jatuh pada yang ringan kayak es teh manis dan es teh sereh. Yang warnanya lebih gelap itu teh manis biasa yaah... Es teh manisnya manis sampai tetes terakhir yah, padahal esnya banyak lho...

Sedapnya, alhamdulillah ditemani makan siang sama ibu ratu n dedek...

Buat Ulf n keluarga, REMPAH KITA juara! Pilihan menunya seabrek, menarik semua buat dipesan, nggak mengecewakan rasa makanan dan porsinya. Kalau ngajak makan keluarga besar juga asyik banget ini karena ya itu tadi menu pilihan banyak kayak one stop shopping gitu....

Sudah ya, segini dulu cerita jalan-jalan santai siblings time sambil makan siang di REMPAH KITA Senayan City yang nyaman banget... Stay cool, stay grateful with what we have, and stay young!

Alhamdulillah...kita semua ada tuk terus berjalan aktif. Bukan mandeg dan menjadi pasif. 
Sehat selalu yah kamu dan makan makanan terbaik....